Senin, 09 April 2012

PENENTUAN KELULUSAN SNMPTN; PASSING GRADE ATAU NILAI NASIONAL?

Setiap menjelang hari pelaksanaan ujian SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SNMPTN, dulu UMPTN), banyak siswa yang bingung dalam menentukan pilihan yang akan diambil. Mereka tidak tahu jurusan mana yang dijadikan pilihan pertama dan mana yang kedua. Salah-salah malah menyesal. Menyesal karena ternyata pilihan pertamanya kurang greget dibandingkan pilihan kedua, juga bisa menyesal karena jurusan yang dipilih termasuk jurusan yang tinggi.
Yang ikut bimbingan belajar/les, tentu akan mendapatkan arahan bagaimana memilih jurusan yang baik. Beberapa bimbel memberikan panduan dengan membeberkan passing grade masing-masing jurusan, bimbel lainnya menggunakan nilai nasional untuk memprediksi kelulusan para siswanya pada jurusan pilihan. BKB Nurul Fikri termasuk bimbel yang menggunakan nilai nasional.

Perbedaan passing grade dan nilai nasional


Penilaian pada SNMPTN menggunakan pola:
Betul         = +4
Salah         = -1
Kosong    = 0
Jumlah soal TPA = 75
Jumlah soal kemampuan dasar = 60
Jumlah soal kemampuan IPA = 60
Jumlah soal kemampuan IPS = 60

Passing grade adalah prediksi jumlah nilai yang didapat seorang peserta dibagi dengan jumlah benar maksimal pada SNMPTN. Setelah itu dicocokkan dengan data yang dimiliki oleh bimbel tertentu yang menjadi tempat peserta itu belajar. Bila passing grade si peserta melampaui nilai passing grade, maka kemungkinan besar peserta tersebut lulus
Rumus passing grade:

Passing Grade = (B x 4) - (S x 1) x 100
                                       JS x 4
Keterangan :

B = Jumlah jawaban benar
S = Jumlah jawaban salah
JS = Jumlah soal

Misalkan Anisa adalah peserta SNMPTN jurusan IPA dan mendapatkan nilai total 390 berarti dia mendapat nilai 50% dari total nilai maksimal (75 + 60 + 60) x 4 = 780. Dengan daftar yang dia dapatkan dari internet/bimbel dia kemungkinan besar akan lulus di Universitas Indonesia jurusan:
Biologi (49,30%), Fisika (49,00%), Matematika (47,95%), atau Teknik Komputer (50,00%).

Berikut data passing grade Universitas Indonesia (UI)
311063 Biologi 49.30
311071 Farmasi 52.60
311041 Fisika 49.00
311085 Geografi 45.75
311255 Gizi 50.04
311152 Ilmu Keperawatan 47.00
311033 Matematika 47.95
311025 Pend Dokter Gigi 52.60
311011 Pendidikan Dokter 58.10
311225 Sistem Informasi 50.00
311211 Teknik Komputer 50.00
(Sumber: http://www.ptn-online.com/passing-grade-standar-kelulusan-snmptn-2010-jur-ipa/)

Jadi peserta lain yang juga memiliki nilai passing grade sama dengan Anisa juga harus masuk jurusan tersebut.  Padahal perlu diingat daya tampung di jurusan tersebut terbatas.

Nilai Nasional

Informasi yang diperoleh langsung dari Prof. Dr. Toemin A. Masoem yang sejak tahun 1981 menjadi Ketua Tim Pengolah Data dan Pelaporan UMPTN Rayon A, B dan C melalui buku yang ditulisnya “ UMPTN atau Ebtanas, Mana yang lebih dapat diandalkan ?” (UI Press 1977) halaman 23, menegaskan bahwa perhitungan pada SNMPTN menggunakan nilai nasional.

Setelah peserta menyelesaikan ujian tertulis SNMPTN, LJK dikirim ke Pusat Ilmu Komputer (Pusilkom) Universitas Indonesia yang langsung melakukan proses scanning (Pemindaian), sementara untuk Regional II dan III dipusatkan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Selama proses ini berlangsung juga dilakukan proses validasi/ pencocokan secara manual untuk memeriksa apakah data yang masuk komputer sama dengan data yang diisi oleh peserta.

Bila terjadi kesalahan maka akan diteliti apakah kesalahan disebabkan oleh peserta atau scanner (alat pemindai). Proses scanning akan diulang bila penyebabnya adalah scanner agar peserta tidak dirugikan. Tapi sebaliknya jika kesalahan berasal dari peserta ujian sendiri maka data akan dibiarkan apa adanya .

Selain itu juga akan dilakukan analisis soal untuk mengetahui apakah ada soal yang salah atau soal yang terlalu mudah atau terlalu sulit

Setelah soal-soal itu dianulir, maka akan dilakukan penilaian yaitu Benar +4, Salah -1 dan kosong = 0. Nilai yang diperoleh disebut Nilai Mentah (raw score).

Seleksi nasional SPMB yang berasal dari regional I, II, dan III yang telah dilengkapi akan digabungkan menjadi satu di Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia, dan selanjutnya akan dihitung statistik dari masing-masing set yaitu Rataan (R) dan Simpangan Bakunya (SB).

Selanjutnya Nilai Mentah (NM) dari masing-masing peserta dibakukan dengan persamaan:

NB = (NM-R)/SB

Nilai Baku menunjukkan seberapa jauh nilai peserta dibandingkan peserta lainnya.

NB ini selanjutnya ditransformasikan menjadi Nilai Nasional (NN) yang mempunyai rataan 500 dan simpangan baku 100 dengan rumus:

NN = 500 + (100 x NB).

Berdasarkan nilai inilah peserta akan diurutkan mulai dari yang tertinggi hingga yang terendah. Selanjutnya dilakukan Proses Alokasi yaitu penempatan peserta ke program studi sesuai dengan ketentuan peserta dengan nilai lebih baik mendapat prioritas untuk dialokasikan terlebih dahulu.

Program studi hanya menerima sejumlah mahasiswa baru sesuai dengan daya tampungnya. Walau pun masih banyak calon dengan nilai sangat baik, kalau daya tampung sudah penuh maka alokasi akan ditutup. Kasus ini sering terjadi pada program studi yang tergolong sangat favorit dengan peminat yang sangat banyak. 

Sebaliknya kalau daya tampung belum penuh akan terus dilakukan alokasi, walau pun nilai dari peserta sudah sangat rendah. Kasus ini terjadi pada program studi yang kurang/tidak favorit sehingga kurang diminati oleh peserta bahkan ada program yang daya tampungnya lebih besar dari jumla peminat.

Tidak ada nilai batas (passing grade) untuk menentukan diterima atau tidaknya peserta. Yang lebih menentukan adalah daya tampung dan jumlah peminat program studi yang bersangkutan.

NILAI MATI

Meskipun pada prinsipnya tidak ada nilai batas lulus ( passing grade), namun untuk mencegah ada peserta yang berspekulasi dengan hanya menjawab mata ujian yang dikuasainya dan mengabaikan mata ujian yang lain, maka ditetapkan suatu ketentuan yaitu bila ada peserta yang memiliki nilai mentah 
2,5 untuk 2 mata ujian atau lebih maka yang bersangkutan tidak akan diikutsertakan dalam proses alokasi. Peserta ini otomatis TIDAK AKAN LULUS dan nilai ini disebut NILAI MATI.

Dari sini dapat kita tarik kesimpulan, bahwa perhitungan nilai nasional adalah perhitungan yang sifatnya dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Oleh sebab itu, kita tidak dapat menghitung nilai nasional kita sendiri tanpa adanya data-data nilai dari peserta lainnya.

Kesimpulan
Pada passing grade, berapapun jumlah peserta yang mempunyai nilai passing grade tertentu harus lulus pada jurusan yang dipilih yang memiliki nilai passing grade sama atau lebih kecil dengan nilai passing grade peserta. Padahal, sekali lagi, daya tampung jurusan sangat terbatas.
Adanya nilai mati pada perhitungan nilai nasional, menjelaskan ada peserta yang cerdas namun tidak lulus SNMPTN. Karenanya tidak boleh ada mata ujian yang diabaikan.
Admin dari situs http://www.ptn-online.com/passing-grade-snmptn/ menulis sebagai berikut:
Namun, admin akan sedikit memberikan opini bagaimana menyikapi passing grade SNMPTN yang telah teman-teman semua ketahui. Pasalnya, ada beberapa kesalahan dalam memahami passing grade untuk tiap jurusan perguruan tinggi negeri. Adapun kesalahpahaman itu adalah sebagai berikut:
1.    Pada dasarnya, PTN manapun tidak pernah memberikan bocoran passing grade (standar kelulusan) kepada pihak-pihak tertentu. Jadi, passing grade yang kita ketahui adalah produk bimbel yang sengaja dibuat sebagai acuan kemungkinan kelulusan.
2.    Passing grade adalah ‘sesuatu’  yang bersifat dinamis. Artinya, setiap periode SNMPTN memiliki standar sendiri untuk jurusan-jurusan tertentu tiap tahunnya.
3.    Sejatinya, yang ada bukanlah standar kelulusan, tapi keketatan, karena sistem SNMPTN bertujuan untuk menyeleksi, bukan menilai.
Oleh karena itu, passing grade tidak dapat menjadi acuan utama kita dalam memilih program studi di SNMPTN.


BKB Nurul Fikri menggunakan perhitungan nilai nasional untuk memprediksi kelulusan para siswanya pada jurusan yang dipilih. Data nilai TO yang diolah dari belasan ribu siswa BKB Nurul Fikri se-Indonesia akan menghasilkan nilai nasional Nurul Fikri yang mendekati perhitungan panitia pusat SNMPTN.
Nurul Fikri telah melakukan pengumpulan data dari siswa-siswa peserta SNMPTN tahun sebelumnya untuk mengetahui nilai nasional minimum untuk bisa lulus di suatu jurusan. Data tersebut dinamakan Matriks Bantu Pemilihan Jurusan (MBPJ). MBPJ ini bisa ditanyakan di sekretariat Nurul Fikri terdekat dengan tempat tinggalmu (tentu kamu harus mendaftar sebagai siswa NF dulu sebelum diperbolehkan melihat MBPJ).
Jadi jangan bingung dan bimbang. Ikut bimbel di Nurul Fikri supaya prediksi kelulusan kamu di SNMPTN makin mendekati kenyataan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar